Struktur Kayu Nasibmu Kini

August 04, 2017
www.woodworks.org

Kayu sebagai material konstruksi (bahan bangunan) sekarang ini sudah mulai tergerus dengan munculnya berbagai material yang lebih inovatif seperti Beton, Baja hot-rolled, Baja cold-formed (Baja ringan) dan sebagainya. Di Indonesia khususnya di Sulawesi, penggunaan kayu lebih kepada pembuatan rumah tinggal (untuk kalangan menengah ke bawah) termasuk rangka atap, jembatan kayu, perancah (scaffolding), itupun saya ragu apakah struktur tersebut melalui perhitungan ataupun perencanaan. Faktanya di lapangan banyak struktur kayu yang hanya main pasang, alias tidak memperhatikan mutu kayu, ataupun beban yang terjadi.

Sebaliknya di Luar negeri seperti Eropa, Inggris dan Swedia, hampir 80% perumahan menggunakan material kayu. Bahkan kayu digunakan sebagai bahan material apartemen sampai 10 lantai. Hal ini disampaikan oleh Dr. Johannes Adhijoso Tjondro dalam Seminar Lokakarya Rekayasa Struktur yang berjudul "Perkembangan dan Prospek Rekayasa Struktur Kayu di Indonesia" juli 2014.

Lihat materi seminar beliau di sini: Perkembangan dan Prospek Rekayasa Struktur Kayu di Indonesia

Kelebihan Kayu dan Kekurangan Kayu

Banyak yang menganggap remeh mengenai kayu sebagai bahan bangunan, namun nyatanya kayu masih memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan material yang lain. Berikut kelebihan kayu:

  • Ringan, dengan massa yang lebih ringan kayu lebih tahan gempa karena menghasilkan gaya inersia yang kecil akibat gempa dengan rasio kekuatan/massa yang besar. Penggunaan kayu sebagai bangunan tahan gempa banyak dipakai di New Zealand.
  • Mudah didapatkan dan relatif murah. Di daerah yang terpencil kayu lebih unggul dibanding yang lain, karena kayu tersedia berlimpah. Seperti yang kita ketahui di Indonesia, hutan menyediakan material kayu yang sangat berlimpah (Walaupun sudah banyak pula yang melakukan penebangan liar). Pemakaian material lain seperti beton atau baja memerlukan waktu dan biaya lebih untuk transportasi material.
  • Relatif mudah dikerjakan dan diganti.
  • Daya hantar listrik rendah.
  • Memiliki keindahan yang khas.
  • Dapat meredam suara
  • Memberi efek hangat
  • Kuat tarik yang tinggi
  • Bahan Alami yang dapat diperbaharui

Kekurangan Kayu:

  • Sifat kayu yang kurang homogen (Ortotropik), cacat kayu, dll.
  • Beberapa jenis kayu kurang awet.
  • Kekuatannya sangat dipengaruhi oleh jenis kayu, mutu, kelembaban dan pengaruh waktu pembebanan.
  • Keterbatasan ukuran, berskala besar dan tinggi.

Untuk mengatasi kekurangan kayu tersebut tentunya perlu diadakan penelitian dan pengembangan mengenai kayu. Sekarang ini sudah banyak inovasi dan kemajuan teknologi kayu, seperti elemen kayu rekayasa pra-fabrikasi.

Contoh Kayu Rekayasa
Contoh Kayu Rekayasa (T tjondro@unpar.ac.id ) 


Peraturan Konstruksi Kayu

Struktur Kayu merupakan salah satu mata kuliah yang dipelajari di jurusan teknik sipil. Dengan bobot 2 SKS, dalam mata kuliah tersebut mahasiswa diajarkan bagaimana cara mendesain Struktur Kayu baik itu rangka atap rumah maupun pada gedung atau jembatan (balok-kolom) dengan kode desain (aturan/standar) tertentu. Di Indonesia sudah beberapa kali diadakan pembaharuan aturan, sebagai berikut:

  • Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) tahun 1961
  • Peraturan kayu tahun 1980
  • SNI Tata Cara Perencanaan Struktur Kayu Untuk Bangunan Gedung tahun 2002
  • SNI Tata Cara Perencanaan Struktur Kayu Untuk Bangunan Gedung tahun 2013

Di Universitas Tadulako, Palu Sulawesi Tengah khususnya secara umum masih menggunakan PKKI 1961 sebagai bahan pembelajaran di dalam kelas. Memang ilmu bukan hal yang basi, namun dengan kondisi ini kita sudah tertinggal jauh 52 tahun lamanya dengan aturan yang sekarang digunakan. Entah alasan apa yang membuat PKKI 61 masih sangat dicintai jurusan sipil di Universitas Tadulako.

Silahkan ke link berikut untuk mendownload SNI kayu:
SNI kayu 2002
SNI 7973-2013

Pada awal memasuki jurusan sipil pada tahun 2013, seharusnya minimal kami mendapatkan SNI kayu 2002 untuk perencanaan konstruksi kayu. Namun nyatanya tidak. Kondisi ini juga terjadi pada aturan lain seperti masih menggunakan PBI tahun 1971 dalam perencanaan struktur beton bertulang. Padahal sekarang ini sudah dikeluarkan dan disahkan aturan terbaru.

SNI kayu terbaru dipilih bukan hanya karena alasan Update aturan. Seperti yang disampaikan oleh tim ITB dalam Kontes Jembatan Indonesia (KJI) 2014 (Lihat lebih lengkap disini: KJI 9. UB Malang). Dibanding tim lain yang masih menggunakan PKKI 61 dan SNI 2002, tim ITB menggunakan NDS 2005 yang notabene itu merupakan aturan desain di Amerika. Mereka mengatakan pemakaian NDS lebih mudah untuk digunakan dibanding aturan yang lain.

PKKI 1961 merupakan aturan yang masih menggunakan metode Allowable Stress Design (ASD) lama, sedangkan SNI 7973-2013 merupakan peraturan konstruksi kayu indonesia yang diadopsi dari NDS 2012 yang memuat aturan baik ASD maupun LRFD yang di indonesia dikenal dengan DTI dan DFBK.

Selain itu, pemakaian SNI kayu mendapatkan hasil yang lebih ekonomis dibandingkan dengan PKKI 1961. Seperti yang dijelaskan oleh Feliana dkk (2007) dalam thesis "Perbandingan perencanaan komponen struktur tarik berdasarkan PKKI 1961 NI-5 dan SNI tata cara Perencanaan Konstruksi Kayu Indonesia".

Lebih lengkap silahkan ke link berikut: Perbandingan hasil Perencanaan SNI kayu dan PKKI 1961

Namun, baru-baru ini jurusan sipil UNTAD terdengar sudah ada perkembangan, setidaknya 1 kelas sudah mulai menggunakan SNI kayu 2002. Ke depannya diharapkan SNI kayu 2013 dapat digunakan secara umum dan kita akan memperoleh manfaat yang lebih dari aturan tersebut.

Demikian artikel kali ini semoga bermanfaat, jika teman-teman mempunyai pendapat lain silahkan tinggalkan komentar anda di bawah ini.

No comments:

Powered by Blogger.