Saya Hanya Ingin Mencari Kebenaran

August 01, 2017
www.timeshighereducation.com

Beralih dari sibuknya sosial media holic, saya memilih untuk membuka dashboard dengan warna dominan putih berhiaskan orange pada logonya. Memandangi beberapa tool yang sudah tidak asing bagi saya. Bagaimana tidak, tool ini sudah menempel di pelupuk mata sejak awal bermigrasi dari sebuah desa yang jauh dari teknologi, ke kota yang 1000 langkah lebih maju dalam segala hal. Bagi saya Blogger.com merupakan rumah ke tiga dimana saya dapat melepaskan lelah, menceritakan hal yang telah saya alami, seperti teman yang setia  mendengarkan ocehan walapun sampai 5000 kata. Rumah ketiga setelah kampung halaman dan kota tempat menimba ilmu.

Pagi itu, tidak seperti mahasiswa yang lain, yaitu mahasiswa yang menyandang gelar mahasiswa semester akhir yang sibuk berjibaku dengan urusan skripsi, walaupun dengan disiplin ilmu yang berbeda-beda namun orientasi mereka jelas untuk membanggakan orangtua. Saya lebih memilih untuk mematung di rumah kedua, menikmati ransum jagung rebus diolesi selai garam dapur sebagai perisanya, tak lupa segelas kopi hitam selalu menemani dengan kehangatannya, menikmati suasana hening dengan gelar pengangguran yang sudah enam bulan lamanya.

Layar laptop bersinar dengan aplikasi Wordpad seakan menunggu untuk ditempelkan beberapa paragraf untuk postingan hari ini. Entah mengapa saya sangat nyaman dengan WordPad, dengan kesederhanaannya dapat membuat saya lebih leluasa untuk menuangkan pikiran. Apa yang akan diceritakan hari ini? Saya berfikir keras untuk mengingat cerita tentang teman, yang terjadi beberapa bulan lalu.  Cerita seorang teman yang sudah memilih jalan hidupnya yang tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya. Bagi saya itu tidak asing namun bagi teman yang lain tentunya akan berbeda. Dengan segala hormat cerita ini akan saya mulai dari sini.

***

Sebut saja Hijrah, tentunya itu merupakan nama samaran yang secara acak saya berikan. Saya tidak akan memberikan gambaran nama yang jelas tentang seseorang sehingga nantinya dia akan dibanjiri dengan kalimat hasut, ataupun gunjingan yang akan membuat dirinya semakin sedih setelah kesedihan yang dia alami.

Saya tidak mendapatkan perjalanan rohani yang sangat mendalam melainkan setelah menjadi seorang mahasiswa. Entah mengapa perkembangan pengetahuan begitu pesat menyebar dan mengakar pada seorang diri mahasiswa. Ditambah dengan berbagai pemahaman maupun ideologi yang bertaburan, membuat seorang mahasiswa akan bingung memilih mana yang akan dia anut. Begitu pun dengan Hijrah, dia telah mengalami perjalanan yang panjang untuk mencapai tujuannya.

Pemahaman ini, pemahaman itu, ajaran ini, ajaran itu, kelompok ini, kelompok itu, lembaga ini, lembaga itu, jamaah ini, jamaah itu, firqoh ini, firqoh itu. Saya yakin orang akan memilih setidaknya satu dari sekian banyak dan kemudian menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Hijrah telah memilih jalannya, itu ditandai dengan perubahan dirinya yang begitu mencolok. Sebagai seorang teman yang sudah mengenalnya setidaknya sudah tujuh tahun sejak bangku sekolah menengah atas,  saya melihat perubahan dirinya yang sangat berbeda. Sebelumnya beberapa bulan yang lalu memang sudah mulai nampak perbedaan, namun pada saat itu saya tidak menyangka Hijrah menjadi seorang yang sangat-sangat berbeda.

Saya sudah bertemu dengan beberapa hal mengenai sunnah, walaupun dengan ilmu yang sangat sedikit saya melihat itu sudah nampak pada diri Hijrah. Dengan celana cingkrang (orang-orang  menyebutnya dengan rombongan celana tinggi atau RCTI), baju koko yang membungkus badan, janggut tipis terawat, selalu menyapa teman berhiaskan senyuman, menundukkan wajahnya saat seorang wanita menatapnya, kata inshaa allah dengan frekuensi ucapan lebih banyak, tutur kata yang lembut dengan selalu menyisipkan hadis dalam setiap pembahasannya, selalu memberikan nasehat kepada teman-temannya, Hijrah sudah berhijrah. Memilih jalan yang lebih baik, namun saya harap-harap cemas dia memilih jalan yang mana, fasilitas yang mana yang telah ia pilih?

Bulan telah terlihat, ramadhan telah berlalu, bergantilah suasana idul fitri yang di masanya  orang-orang saling bermaaf-maafan. Seorang teman saya mengajak untuk berkunjung memenuhi salah satu undangan silaturahmi. Tentunya saya tidak boleh menolaknya, walaupun kadang saya lebih memilih tinggal di rumah dibandingkan berkumpul bersama. Rasa minder berkemas malu lebih besar mengalahkan rasa ingin berkumpul. Berbagai undangan terlontarkan dan kali ini undangan dari teman saya sesama jurusan sipil.

"Gus, habis isya saya tunggu di rumah" ujarnya.

"Sip roa, yang penting siap apa-apa!" saya memberikan kode bahwa anak kos-kosan mempunyai kebutuhan dan kebiasaan yang khusus mengenai makanan.

"Gampang itu, yang penting datang, saya tunggu" balasnya dengan rima meyakinkan.

Malamnya sebelum isya ternyata ada dua undangan yang lain menunggu. Teman-teman alumni sekolah menengah atas dan teman-teman di jurusan sipil. Tentunya saya tidak akan menghadiri ketiga undangan tersebut secara bersamaan. Setidaknya saya harus memilih dua undangan untuk diatur agar tidak terlampau larut malam. Undangan yang pertama saya hadiri bersama salah seorang teman. Setelah percakapan yang sengit mengenai pengalamannya berkunjung ke salah satu seminar nasional, saya memutuskan untuk melanjutkan ke undangan yang ke dua, seharusnya percakapan tersebut lebih lama terlebih ada informasi mengenai inovasi pengembangan sumber daya air. Apalah daya percakapan tersebut harus dihentikan dan menuju ke rumah teman yang lain.

Sampailah saya di rumah salah seorang teman yang memberi undangan ke dua, minuman dingin sudah tersedia, beberapa toples kue yang menggugah selera terpampang di atas meja pendek, lantai beralaskan karpet pun tersedia. Malam itu merupakan malam yang penuh canda tawa, bagaimana tidak pertemuan yang boleh dikatakan reuni itu menyatukan kembali teman-teman semasa SMA yang banyak meninggalkan cerita indah. Setidaknya ada tujuh orang yang bersama saya saat itu, mereka kuliah jauh-jauh sehingga pertemuan saat itu terasa lebih kepada berbagi pengalaman bagaimana hidup di perantauan.

Malam semakin gelap, dingin semakin menusuk, minuman sudah mencapai garis kritis hampir habis. Datanglah seorang yang sudah ditunggu-tunggu, Hijrah datang dengan bingkisan yang di tangannya. Sudah tertebak itu gorengan yang tadi dipesan. Salam hangat bermula terdengar dari kejauhan. Dengan senyuman khas berbalut sapaan khusus anak-anak yang sudah akrab sejak masa SMA.  Hijrah bersalaman dengan kami semua terkecuali untuk wanita. Dia hanya menampilkan telapak tangan yang dipertemukan di depan dadanya, seperti orang yang mau menghangatkan telapak tangan.

Tentunya sudah tidak asing lagi, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya“. Bagaimana pun itu sudah nampak pada dirinya yang tidak memberikan tangannya kepada wanita yang bukan mahramnya. Kami semua adalah teman-teman baiknya namun, dengan peristiwa itu beberapa teman mulai menduga-duga. "Hijrah sudah berubah, bukan Hijrah yang dulu" mereka seperti melontarkan kalimat kekecewaan. Saya memperhatikan suasana yang sedikit canggung dari diri Hijrah. Percakapan yang tadinya lepas, seakan berubah menjadi kaku dengan pembahasan yang sudah dipilah.

Teman-teman merasa risih, khususnya pada teman sekampungnya yang sangat-sangat heran dengan perubahan dirinya.

"Saya tahu yang begini ini hanya bohongan, hanya pura-pura" Ujar salah seorang teman yang seakan berusaha membuka tabir kebenaran.

Hijrah hanya tersenyum dan berusaha memberikan pembelaan yang saya pikir tidak berarti. Dia seakan terpojok dan seakan ini menjadi malam yang berat bagi Hijrah. Hijrah mendapatkan pertanyaan yang menguji keimanannya. Sebelumnya ia meyakinkan teman-teman bahwa menyentuh perempuan merupakan hal yang haram. Hijrah berusaha meyakinkan merokok itu adalah hal yang tidak baik, semua itu sudah tidak asing bagi saya namun teman-teman yang lain semakin ingin membuka jadi diri Hijrah sebenarnya.

"Bagaimana kabarnya si itu, dimana sudah dia? tanya seorang teman, dia berusaha menanyakan wanita yang dekat dengan Hijrah pada masa lalu.

"Inshaa Allah dia baik-baik saja" jawab hijrah yang berusaha menjawab dengan terbata-bata.

Mereka lupa dengan perkataan Umar bin Khattab radiallahu 'anhu bahwa Jangan pernah mengungkit masa lalu orang lain, karena kita tidak pernah tahu seberapa keras ia berjuang untuk lepas dari masa lalunya.

Dia berganti posisi duduk di sebelah yang lebih dekat dengan saya. Saya pikir dia berusaha mencari dukungan, dia mengira saya adalah orang yang sebaik itu. Saya hanya berusaha mengalihkan pertanyaan sebisa saya, berusaha mencairkan suasana. Namun Pertanyaan lain muncul dengan bertubi-tubi berusaha menyerang Hijrah.

"Celana saya juga begitu, tapi tidak saya kasi lihat, jangan terlalu ekstrim begitu" sambung seorang teman.

Pertanyaan sudah mulai memuncak. Saya hanya memberikan pertanyaan kecil kepada Hijrah supaya dia tidak terlalu memikirkan perkataan teman-teman yang lain.

"Biasa kumpul dengan siapa?" saya berusaha mencari tahu kebiasaannya. Namun dia tidak memberikan jawaban yang jelas.

"Saya hanya ingin mencari kebenaran" jawabnya dengan pelan.

"Kalau mau belajar kamu ketemu ini saja", Saya memberikan rekomendasi nama teman yang saya anggap bisa dipercayai terkait pembelajaran langsung tentang agama islam. Teman satu lembaga yang saya anggap berkompeten untuk memberikan masukan kepada Hijrah.  Saya tidak tahu dia sering kumpul dengan siapa takutnya dia akan menerima pemahaman-pemahaman yang menyimpang. Saya tidak melarang, dia memilih jalannya sendiri. Walaupun saya sudah mulai mengetahui kata "inshaa allah" lebih dekat dengan satu kelompok itu.

Saya paham dengan apa yang Hijrah hadapi sekarang ini. Ini merupakan konsekuensi yang harus dihadapi. Bagaimana kita dahulu biasa-biasa saja kemudian menerapkan syariat islam dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita menjadi aneh (bagi mereka). Tidak hanya teman-teman sekolah, bahkan sampai orang tua akan menjadi heran dengan perilaku dan penampilan kita, yang mana mereka tidak pernah bertemu dengan hal-hal seperti ini. Saya pernah merasakan apa yang dia rasakan. Bagaimana saya berusaha meyakinkan orang tua tentang pemahaman yang bertentangan dengan tauhid, bukan hal yang mudah sampai sekarang selalu menjadi singgungan bahwa bapakmu ini tidak diterima do'anya, hanya mamamu. Bagaimana dikatakan oleh orang-orang bahwa kamu menyimpan bom dalam tasmu pada saat kamu memakai celana cingkrang dengan janggut tipis tumbuh subur di dagumu. Bagaimana lembagamu dikatakan aliran sesat padahal itu sama sekali tidak benar.

Saya memilih untuk mengajaknya cepat pulang. Berhubung pada malam itu saya tidak membawa motor, sehingga saya meminta untuk di antar olehnya (alias nebeng). Lebih baik untuk menjauh supaya pembahasan tidak berlarut-larut bahkan menimbulkan perdebatan. Apa yang bisa saya perbuat? Saya juga hanyalah anak kemarin sore yang solatnya pun senin kamis. Bagaimana bisa menjawab pertanyaan yang lebih kepada menyakitkan hati seperti itu.

Hijrah hanyalah satu dari sekian banyak orang yang merasakan hal yang sama. Namun cerita ini sedikit menggambarkan bagaimana konsekuensi seorang yang memilih untuk berhijrah. Bagaimana orang yang dianggap asing bagi teman-temannya, bagi keluarga, bagi kelompoknya. Bagaimana kata "teroris" dilekatkan pada diri seorang muslim. Namun itu semua merupakan investasi kita, bagaimana orang-orang asing digambarkan dalam hadis berikut.

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”

Demikian cerita kali ini semoga bermanfaat. Silahkan teman-teman berikan saran atau komentar di bawah ini.

6 comments:

  1. terima kasih kunjungannya Peb. semoga bermanfaat

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah....
    sudah mulai muncul laki-laki yang gemar menulis. sebagian besar blog yg sy baca penulisnya perempuan. semangat berkarya dan semoga menjadi salah satu pemuda yang berhijrah juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagian besar memang perempuan untuk blog personal, laki-laki ada jg yang personal. Tp mereka lebih pilih pembahasan tertentu yang lebih serius, seperti blog teknologi, blog tutorial, dll.
      Terima kasih kunjungannya dini. Semoga bermanfaat

      Delete
  3. Lebih baik berkata yang baik-baik atau diam, kalau kita belum sepaham lebih baik diam dan support aja ya mas. Salam kenal, #Blogwalking

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kunjungannya ya. salam kenal, semoga bermanfaat

      Delete

Powered by Blogger.