Dia Dipanggil Sombong Oleh Temannya

August 17, 2017
https://ihei.wordpress.com/

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan (kok kayak sinetron ya?)

Langkah kaki kecil berjalan menyusuri bagian kiri jalan. Menyisakan jejak kaki di atas jalan yang sedikit rata, berpasir dibandingkan bagian tengah jalan yang lebih kasar khas jalan pedesaan. Ini adalah pilihan yang terbaik bagi pengguna sepeda agar bokong mereka tidak sakit. Namun, itu juga menjadi jalur krusial untuk murid yang satu ini. Dengan seragam hijau kuning, celana hijau pendek di atas lutut, berbalut baju kuning lengan pendek kebesaran untuk ukuran badannya. Bak pisang ijo yang dikuliti bagian atasnya, ia berjalan dengan tas yang kebesaran menuju sekolah taman kanak kanak. Memang warna seragamnya sedikit nyentrik namun itu merupakan ciri khas taman kanak kanak maupun sekolah ibtidaiyah salah satu lembaga.

Bagas namanya, anak berbadan cungkring berumur enam tahun. Ia merupakan anak yang terkenal bodoh dalam membaca, menghafal apalagi menghitung di sekolahnya. Bagaimana tidak? Pada saat ibu gurunya sibuk menjelaskan mengenai matematika tambah kurang, ia lebih sibuk bermain pesawat terbang dengan kotak pensil yang dipegangnya melayang, lengkap dengan suara jet pesawat dari mulutnya.

"Buuummmm....!" suara Bagas men-dubing pesawatnya. Walaupun tidak mirip

Bagas nampak seru dengan berbagai manuver yang dia lakukan. Bak pertunjukan Sukhoi 17 Agustusan yang menyapu udara.

Suara ibu guru tertimpa suara jet pesawat buatan Bagas. Tiba-tiba kelas menjadi sepi, ibu guru menoleh ke arah meja Bagas.

"Bagas.! Apa yang kamu lakukan? Kamu bermain saat ibu mengajar? Letakkan kotak pensil itu cepat, perhatikan ibu menjelaskan" Ibu guru terlihat marah, namun kali ini Bagas mendapatkan ampunan dari ibu guru.

Pelajaran matematika merupakan pelajaran yang tidak menarik bagi Bagas. Bagas baru akan antusias belajar jika hari itu adalah hari minggu. Khusus sekolah Bagas, hari minggu siswanya tetap sekolah seperti biasanya, maklum sekolah Bagas merupakan taman kanak kanak milik lembaga islam yang hanya libur pada hari jumat. Pantas saja Bagas menyukai hari minggu, pada hari itu merupakan kelas melipat kertas dan menggambar. Itu merupakan satu-satunya keahlian Bagas. Dia merupakan artis pada kelas itu. Lagi pula pada hari minggu sekolah berakhir sampai pukul 9 pagi. Satu lagi, pada hari minggu merupakan hari film kartun yang berlimpah ruah, berbagai macam film kartun kesukaan anak-anak akan tayang di televisi pada hari itu.

Sepulang sekolah, Bagas akan menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bermain di halaman belakang rumahnya. Bersama teman-temannya dia membuat berbagai macam mainan yang epik pada zamannya. Jauh dari mainan anak-anak pada zaman modern, semuanya terbuat dari bahan-bahan yang tersedia di alam. Sebut saja rumah-rumah, pistol-pistol, pedang-pedang, kapal-kapal, yang entah mengapa semuanya terdengar seperti benda yang dikuadratkan. Yang mana setiap permainan memiliki musimnya tersendiri, seperti musim layangan atau musim kapal-kapal. Permainan mereka baru berakhir jika suara ibu terdengar berteriak memanggil anaknya, yang bermain di halaman belakang rumah sampai waktu magrib tiba.

http://batakeras.blogspot.co.id

***

Bagas lahir dalam keluarga yang berkecukupan, setidaknya uang jajannya cukup untuk membeli nasi kuning dengan lauk ikan suir-suir lengkap dengan mie laksanya serta berbalut hijaunya daun pisang.

Suatu pagi, Bagas ingin membeli nasi kuning seharga 250 rupiah, dengan wajah yang berbinar-binar dia tersenyum karena pagi ini dia akan sarapan nasi kuning harum nan elegan bersama murid-murid lainnya. Dia berusaha merogoh saku celana hijaunya, berusaha mengambil uang jajan dari ibu yang diberikan sebelum berangkat sekolah. Tanpa menghitung, tanpa ragu, dia langsung memberikan semua uang recehnya ke penjual nasi itu. Maklum, karena tanpa menghitung dia sudah mengetahui bahwa uang jajannya sehari-hari hanyalah 250 rupiah saja.

Nasi sudah di tangannya, dia bergegas ke tempat duduknya untuk menyantap makanannya. Sebelum dia beranjak, tiba-tiba penjual tadi memanggil.

"Nak..! Siapa namanya?" tanya penjual ke teman-teman bagas.

"Bagas namanya bu.!" jawab mereka dengan lantang.

"Bagas.! kemari dulu nak" sambung penjual nasi itu.

Bagas berlari menuju penjual itu. Dalam hati dia bertanya-tanya mengapa penjual itu memang saya.

"Iya, kenapa bu?" tanya Bagas

"Uang kamu tidak cukup Bagas" jawab si penjual

"Loh, tadi itu kan sudah cukup 250 rupiah, ada tiga uang koin kan?" jawab bagas, berusaha meyakinkan penjual.

"Iya, ada tiga uang koin, tapi yang satu hanya 25 rupiah, jadi uangmu hanya 225 rupiah. Kamu punya uang 50 rupiah? supaya saya kembalikan 25 rupiah" jawab si penjual

Bagas terdiam, dia melihat ternyata koin yang diberikan ibu itu adalah uang koin 25 rupiah yang sudah tidak terpakai lagi. Senyum bahagia Bagas terurungkan, mimpinya untuk sarapan nasi kuning pagi itu memudar akibat uangnya yang tidak cukup. Dadanya sesak, wajahnya tertunduk malu sembari memikirkan solusi apa yang dapat dia lakukan. Tiba-tiba dia menjulurkan tangannya ke penjual itu, dia berusaha mengembalikan nasi kuning itu.

"Ini bu nasinya, saya kembalikan saja" kata Bagas.

"Tidak usah lah kalau begitu, lain kali saja kamu bayarnya" kata si penjual, karena kasihan melihat raut wajah si Bagas yang kecewa.

"Iya bu, Terima kasih bu.!" jawab Bagas

Bagas kembali tersenyum, namun tidak seperti sebelumnya. Dia masih kecewa dengan ibu karena memberikan uang jajan yang tidak cukup. Dia pun bergegas ke ruang kelasnya.

***

Kelas Nol besar dan Nol kecil, semua di lalui Bagas dengan nilai yang serba cukup. Cukup untuk melanjutkan sekolahnya ke tingkat selanjutnya yaitu tingkat Sekolah Dasar (SD). Di Sekolah Dasar Bagas merubah cara berpikirnya, dia berusaha belajar dengan giat untuk mendapatkan nilai yang bagus, tidak seperti masa taman kanak kanak yang mana dia selalu mendapatkan nilai merah. Pada saat ujian triwulan (ujian per tiga bulan) kelas satu dia membaca semua soal dengan teliti dan berusaha menggoreskan pensilnya ke jawaban yang paling benar.

Tiba masanya penerimaan raport pertama, dia bersama ibunya pergi ke sekolah. Semua orang tua duduk bersama anaknya, pembacaan rangking murid dimulai. Dimulai dari nama yang menerima rangking paling belakang. Satu persatu nama disebutkan, namun dia belum mendengar namanya disebutkan.

"Yang mendapatkan Juara 3 adalah... Dewi!" pak guru mulai mengumumkan 3 besar juara kelas.

Bagas mulai sesak, jantungnya berdegup kencang karena di sana hanya ada namanya dan salah satu temannya.

"Yang juara 1 adalah.... Bagas! dan juara 2 adalah yanto!" teriak pak guru.

Sontak Bagas terlihat sumringah, ibunya mengambil raport bersampul merah itu lengkap bertuliskan nilai serta angka 1 di catatan juaranya. Mereka kembali ke rumah dengan raut wajah yang sangat senang.

Bagas berlari ke rumah, berusaha mencari ayahnya. Dia ingin memamerkan juara satunya yang dia dapatkan. Dia ingin mendapatkan pujian dari ayahnya karena telah mendapatkan gelar juara 1. Dia ingin ayahnya menandatangani raportnya itu, karena setiap raport harus di kembalikan dengan tanda tangan seorang ayah pada bagian bawahnya.

"Ayah..! Saya dapat juara 1..!" teriak Bagas dari kejauhan

"ahh, baru triwulan pertama juga, masih kelas 1" jawab ayahnya

Jawaban yang keluar dari mulut ayahnya tidak seperti yang dia harapkan. Dia kembali dengan kecewa, ternyata ayahnya menganggap itu karena dia baru kelas satu. Jadi masih banyak waktu yang akan dia lewati. Namun, jawaban itu membuat Bagas kecewa dan menganggap ayahnya tidak menghargai usahanya yang keras untuk belajar. Akibatnya setiap penerimaan raport dia tidak antusias lagi, karena mengingat ucapan ayahnya. Setiap pengumuman raport dia terima dengan dingin.

"Ayah tanda tangan di sini!" Bagas memberi raport ke ayahnya.

Ayahnya memperhatikan dengan seksama. "Kamu juara satu lagi?" tanya ayahnya.

"Iya." jawab Bagas dengan singkat.

"Kalau nanti dapat juara satu lagi, ayah akan belikan baju bola!" rayu ayahnya

"terserah ayah" dia membalas ayahnya dengan jawaban dingin.

Setiap semester, setiap kelas, dia lalui  dengan predikat juara. Bagas terkenal penyendiri, dia selalu mengerjakan tugas kelas dengan sendirinya. Teman-temannya selalu menunggunya di pagi hari setiap ada tugas rumah. Mereka ingin mencontek tugas rumah yang Bagas kerjakan. Pada suatu ketika Bagas terlambat datang ke sekolah, dan membuat teman-temannya terlambat untuk mencontek tugasnya. Akibatnya teman-temannya mendapatkan nilai yang rendah dibandingkan dengan Bagas.

"Bagas sombong..! Bagas pelit..!" celutuh teman-temannya karena dia tidak memberikan tugasnya kepada teman-temannya untuk dicontek.

"Loh, Kenapa saya yang disalahkan?" jawab Bagas.

Bagas terkenal sebagai anak juara kelas yang sombong karena tidak membagi tugas rumahnya. Walaupun dibenci teman-temannya, tetap saja dia selalu mendapatkan juara kelas. Beberapa temannya geram melihat dia yang selalu benar menjawab soal.

Pada suatu hari, setiap murid diberikan soal pilihan ganda. Mereka diharuskan menjawab semua soal dan menuliskannya di sebuah kertas. Setiap murid menjawab dengan seksama. Tiba saatnya untuk memeriksa jawaban. Soal akan dijawab oleh guru, namun setelah kertas jawaban ditukar oleh teman yang lain, bukan pemiliknya.

Satu persatu soal dan jawaban dibaca. Semua murid bersorak "Yes, saya benar.!" sampai tiba pada satu pertanyaan menjebak.

"Jumlah hari dalam 1 tahun adalah...?" kata pak guru.

"Jawabannya B Pak, 360 hari" jawab salah seorang murid perempuan.

"Iya pak jawabannya B" semua mendukung jawaban murid ini.

"Jawabannya B!" Entah mengapa pak guru memberikan jawaban B.

"Bukan Pak, jawabannya C. 365 hari" teriak Bagas.

Dia tidak setuju dengan jawaban guru dan teman-temannya, tidak rela nilainya kurang karena keputusan mereka yang membenarkan jawaban B.

"Bagas salah pak! jawabannya B. 360, karena 12 bulan dikali 30 hari dalam satu bulan itu sama dengan 360 hari.!" teriak salah seorang temannya.

"Tidak pak! saya pernah baca di buku jawabannya 365 hari, kalau tidak percaya mari kita buka buku" Jawab bagas

Bagas berusaha membela jawabannya. Mereka sepakat untuk membuka buku untuk melihat jawabannya dan ternyata dituliskan benar 365 hari sesuai jawaban Bagas. Otomatis jawaban pak guru dan teman-temannya salah.

"Wah mustahil, pasti Bagas nyontek buku pak!" teriak salah seorang murid

"Tidak pak, saya tidak menyontek buku!" jawab Bagas.

"Sudah.. Sudah jawaban dua-duanya benar. Bagas benar 365 hari, 360 juga benar  karena setiap bulan tidak rata 30 hari" jawab pak guru.

Bagas tidak rela mereka benar. Semua ini pilihan ganda hanya ada satu jawaban yang paling benar. Akhirnya mereka membenarkan jawaban 360 hari. Bagas menerima keputusan dengan berat hati. Apalagi setelah dia dituduh menyontek jawaban di buku teks.

Bagas semakin terkenal, dia semakin terkenal sebagai seorang yang sombong oleh teman-temannya. Apapun yang terjadi Bagas tetap dengan pendiriannya, walaupun dia dituduh nyontek, dibilang sombong oleh teman-temannya, di tetap menjadi juara kelas sampai ujian nasional sekolah dasar dilaksanakan.

***

Demikian artikel kali ini, Bagaimana cerita Bagas selanjutnya? Mudah mudahan masih diberikan kesempatan untuk menulis. Sampai jumpa di cerita selanjutnya ya! Semoga bermanfaat

No comments:

Powered by Blogger.