Why? jalan layang harus melingkar


Gambar tersebut diposting oleh @infotekniksipil beberapa hari yang lalu, dalam akun instagramnya. Disertai pertanyaan, Mengapa bisa seperti itu?

Dapat kita lihat bahwa jalan layang tersebut dibangun menghindari jalur kereta api di bawahnya. Namun yang menjadi pertanyaan besar, mengapa harus melingkar begitu jauh? Mengapa tidak langsung lurus saja? Why?

Pertanyaan ini ditanggapi oleh netizen dengan bermacam-macam jawaban. Yang menurut saya, makin lama jawabannya semakin kocak. Beberapa orang menanggapi dengan jawaban serius, dapat dilihat dalam gambar berikut

Tanggapan Netizen
Mengapa harus melingkar begitu jauh? Mengapa tidak langsung lurus saja? Why?

Jawaban:

Biar ada estetika
Masalah tata kota
Mengurangi kemacetan
Masalah elevasi
Biar dapat menempatkan banyak kendaraan
Supaya peluang korupsi makin gede
Supaya bisa nge-drif
Biar ada yang tanya
Karena Because selalu Always
Kontraktornya lebih tahu (Jawaban paling bijak)

Memang sih jawaban sebenarnya ada pada perencana dan kontraktornya yang notabene mereka adalah orang-orang teknik sipil. Seharusnya mereka yang bergelut dalam dunia sipil, kemungkinan besar tahu dengan kondisi ini.  Menurut saya ini sangat menarik untuk dibahas. Sempat gerah juga membaca komentar yang menyalahkan kontraktor. Tapi yang penting Happy aee!

Mari sama-sama kita menduga.

Dalam mata kuliah teknik sipil khususnya transportasi, ada beberapa yang sangat berkaitan dengan kondisi ini seperti mata kuliah Perencanaan Geometrik Jalan, Perencanaan Perkerasan Jalan, dan Rekayasa Lalu Lintas.

Dan yang paling mengena tentunya masalah Geometrik Jalan. Perencanaan Geometrik Jalan sangat erat kaitannya dengan perencanaan fisik jalan, trase jalan, dimensi jalan, sudut tikungan, superelevasi, kelandaian maupun parameter lain seperti kecepatan rencana, kapasitas rencana dan sebagainya.

Jika diperhatikan, jalan di atas kemungkinan besar termasuk jalan bebas hambatan (jalan tol). Walaupun masalah geometrik jalan tol belum dibahas dalam jejang S1, namun tentunya masih terkait dan sama dengan perencanaan geometrik jalan pada umumnya.

Walaupun kita menduga-duga dalam hal ini tentunya kita harus punya sumber yang mendukung dugaan kita. Beberapa standar yang dapat digunakan yaitu:

Standar No. 007/BM/2009 tentang Geometrik Jalan Bebas Hambatan untuk Jalan Tol, Dep. PU Dirjen Bina Marga.
Peraturan Menteri Perhubungan. No. PM.60 tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur Kereta Api (khususnya terkait ruang bebas kereta api)

Mengapa harus menikung terlalu jauh?

Geometrik jalan terbagi dalam dua bagian yaitu Alinyemen Horizontal dan Alinyemen Vertikal. Dan yang akan kita bahas yaitu alinyemen vertikal (karena langsung terkait). Standar untuk jalan tol terkait alinyemen vertikal dapat berhubungan dengan beberapa hal, seperti dalam gambar berikut.



Dugaan awal yang paling mendekati yaitu terkait syarat kelandaian jalan (%). Yang mana kelandaian sangat erat kaitannya dengan elevasi dan kecepatan rencana. Kelandaian harus direncanakan demi keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.

Kelandaian rencana (lihat tabel kelandaian maksimum di atas) sangat terkait dengan kecepatan rencana. Seperti yang kita ketahui bahwa jalan tersebut adalah jalan bebas hambatan yang mana kecepatannya dapat mencapai 80-100 Km/jam. Selain itu pada jalan tidak terdapat lajur pendakian untuk truk. Maka menurut peraturan geometrik jalan tol, setidaknya kondisi tersebut untuk kecepatan 100 Km/jam) dapat diketahui kelandaian rencana yaitu 3% (datar), 4% (perbukitan), 6% (pegunungan). Lihat tabel di atas

Untuk mencari kelandaian tentunya kita harus mencari terlebih dahulu elevasi jalan dari permukaan tanah. Jika elevasi jalan terkait dengan kereta api, maka perlu di ketahui tinggi kereta api beserta syarat ruang bebasnya. Berdasarkan aturan kereta api, dapat kita lihat syarat ruang bebas sebagai gambar berikut.
Ruang bebas Kereta Api

Dari gambar kita melihat elevasi dapat mencapai 6,20 m (batas IV) untuk jalur kereta api listrik. Jika ditambah dengan tebal jalan, balok girder dsb. Maka dapat diasumsikan elevasi jalan dapat mencapai sekitar 8 m. Hubungan kelandaian, jarak dan elevasi dapat dilihat dalam ilustrasi berikut.

Ilustrasi Kelandaian

Jika elevasi sudah didapat yaitu 8 m dan elevasi diambil 4%, maka minimal jarak yang diperlukan (L) untuk penurunan yaitu 200 m (8/4%).

Silahkan teman-teman perkirakan panjang garis merah yang disarankan gambar paling pertama. Apakah itu dapat mencapai 200 m? jika jarak antar tiang lampu jalan adalah 50 m maka kemungkinan panjang garis merah tersebut hanya mencapai kurang lebih 150 m. Sampai disini masalah kelandaian maksimum  setidaknya sudah ada bukti yang mendekati (untuk menjadi dasar).

Jika kita melihat kembali jarak pada gambar paling awal. Kurang lebih jarak memutar adalah sekitar 400 m. Jarak ini dua kali lipat jarak minimum yang telah kita hitung sebelumnya yaitu 200 m.

Mengapa demikian?

Ada satu lagi yang bisa menjadi alasan kuat mengapa jalan menikung sangat jauh yaitu Panjang Landai Kritis (lihat gambar alinyemen vertikal di atas).

Panjang Landai Kritis yaitu panjang kelandaian maksimum dimana kendaraan dapat mempertahankan kecepatannya sedemikian rupa yang ditetapkan berdasarkan tanjakan dan penurunan kendaraan berat yaitu 15 Km/jam. Lihat tabel Panjang Landai Kritis.

Dari tabel tersebut dapat kita lihat untuk kecepatan 100 Km/jam, nilai 400 m terdapat pada kelandaian 6% lebih besar dari perkiraan kelandaian awal kita yaitu 4%. Jika berdasarkan kelandaian 6% maka jarak (L) yang diperlukan adalah 133 m ( kelandaian sudah tercukupi, namun syarat panjang landai kritis tidak terpenuhi).

Kemungkinan hal ini pula yang menjadi alasan mengapa simpang susun semanggi (lagi hangatnya) dibuat seperti gambar berikut. Selain alasan keindahan atapupun tata kota.

Simpang Susun Semanggi

Kesimpulan

Maka dapat disimpulkan bahwa masalah diatas kemungkinan besar terkait Panjang Landai Kritis. Untuk menanggulangi kendaraan berat, supaya dapat mempertahankan kecepatannya. Seperti yang kita ketahui kendaraan berat seperti truk, bus, memerlukan kelandaian yang cukup untuk menanjak, jika tidak kemungkinan besar kendaraan tidak sanggup menanjak. Bahkan dapat menyebabkan kendaraan terguling.

Pembahasan ini merupakan suatu perkiraan, berdasarkan standar yang ada. Namun ada beberapa hal yang tentunya perlu dipertimbangkan seperti masalah jarak pandang pengemudi dan lain sebagainya. Demikian, jika teman-teman punya pendapat lain silahkan tinggalkan komentar dibawah ini.

No comments:

Powered by Blogger.