Kota Palu Waspada Aliran Debris

Beberapa bulan lalu, dalam percakapan santai salah seorang dosen bertanya "Kalian tau aliran debris? Tidak tau? Aliran sungai di sulawesi identik dengan itu, sekarang sedang diteliti". Pertanyaan dosen ini terasa seperti tamparan keras (teknik sipil kok tidak tau aliran debris).
Pernah dengar beberapa tipe aliran, tapi yang satu ini merupakan hal yang asing bagi saya. Tidak pula dibahas dalam mata kuliah. Apa mungkin ini masuk dalam materi konsentrasi keairan? maklum pada semester 5, konsentrasi geoteknik lebih menarik minat saya.
Pertanyaan dosen ini mengarahkan saya untuk mencari materi lebih lanjut tentang aliran debris di Palu dan sekitarnya. Dari beberapa sumber tampaklah fakta menarik mengenai aliran debris. Dan menurut saya, masyarakat maupun pemerintah seharusnya aware dengan ini.

Apa itu aliran debris?

Aliran debris adalah aliran air sungai dengan konsentrasi sedimen tinggi pada sungai dengan kemiringan sangat curam. Aliran sungai ini sering kali membawa batu-batu besar dan batang-batang pohon. Aliran debris meluncur dengan kecepatan tinggi, memiliki kemampuan daya rusak yang besar, sehingga mengancam kehidupan manusia, menimbulkan kerugian harta dan benda serta kerusakan lingkungan.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Bambang Sulistiyono dalam pidato pengukuhan, dilansir oleh situs ugm.ac.id dalam tajuk Prof. Bambang Sulistiyono: Teknik Sabo Cegah Aliran Debris. (05 Februari 2013)
Penyebab aliran debris adalah kondisi geologis yang kompleks, topografi yang tidak datar, curah hujan tinggi, banyak gunung api aktif, dan lereng yang tidak stabil. Mempunyai daya rusak yang besar dengan berat volume air mencapai 15-20 kN/m3.
Dalam masyarakat umum aliran debris lebih dikenal dengan Banjir Bandang.
Vidio di bawah ini merupakan salah satu contoh seperti apa aliran debris.


Dampak aliran debris

Sesuai dengan pengertian aliran debris yaitu aliran yang membawa batu besar dan batang-batang pohon. Silahkan teman-teman perhatikan sejenak gambar di bawah ini.
Putusnya jalan trans sulawesi desa dolago (OETAR/MERCUSUAR)
Masih ingat dengan peristiwa dalam gambar di atas? saya pikir itu merupakan salah satu dampak aliran debris. Peristiwa di atas merupakan banjir bandang yang terjadi di Desa Dolago, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Dilansir beritaheadline Banjir di desa dolago tersebut mengakibatkan ratusan rumah rusak parah dan terputusnya jembatan penghubung  jalan trans sulawesi akibat terjangan material kayu dan batu yang terbawa banjir.
Peristiwa tersebut merupakan penampakan yang mengerikan bagi saya. Tepat pada subuh hari, setelah malam banjir tersebut travel bus yang saya tumpangi berhenti dan masuk dalam daftar antrian mobil sepanjang jalan di desa dolago tersebut. Selain rumah yang rusak parah, saya melihat banyaknya hewan ternak warga yang tergeletak mati akibat terjangan banjir tersebut. Warga dan petugas TNI serta berbagai organisasi seperti pramuka, saling membantu membuat tenda dan mengatur pasokan makanan.
Aliran debris juga berdampak pada struktur yang dibangun melintasi sungai seperti bendungan dan jembatan. Jembatan yang berdiri di Desa Dolago tersebut merupakan jembatan struktur rangka baja. Namun, dapat kita lihat bagaimana aliran air yang membawa batang pohon tersebut dapat menghanyutkan jembatan tersebut. Selain itu, secara tidak langsung akan berdampak pada jalur transportasi.
Berbagai penelitian telah dilakukan, bagaimana aliran debris berdampak pada gerusan pilar jembatan. Salah satu seperti yang dilakukan oleh Anisa Fajar Suryani dalam tugas akhir yang berjudul Analisa Model Fisik Pengaruh Aliran Debris Terhadap Gerusan Lokal Yang Terjadi Di Pilar Jembatan
Selain itu, akibat aliran debris akan menyebabkan pendangkalan sungai. Aliran debris yang membawa sedimen dalam jumlah banyak akan menyebabkan sedimendasi  khususnya di bagian hilir dan berpotensi sungai akan meluap.
Seperti yang terjadi pada sungai Sombe, Palu. Sedimen mencapai 2 meter lebih dan mengancam sejumlah rumah yang berada di bantaran sungai jika hujan (beritadaerah.co.id, 2014)


Pendangkalan Sungai Sombe (beritadaerah.co.id)

Pegunungan Barat Palu, Waspadai Banjir

Alamsyah Paleng, ST, MT salah satu dosen konsentrasi keairan, jurusan teknik sipil Universitas Tadulako, dalam sultengekspres.com mengatakan bahwa warga yang bermukim di lereng sebelah barat Kota Palu, Sulawesi Tengah mesti waspadai banjir debris (Oktober 2016).
Beliau mengatakan karakteristik intensitas, durasi dan sebaran pernah terjadi pada tahun 1996. Pada waktu itu aliran debris terjadi dan merusak beberapa rumah di dekat alur sungai  dekat PLTD Silae.
Beliau berpendapat tetap menghargai apa yang telah dilakukan pemerintah dan BPBD. Pengelolaan bencana seharusnya juga dilihat sebagai usaha mitigasi atau pencegahan bukan hanya penanggulangan dampak saat bencana sudah terjadi.

Upaya Pengendalian Aliran Debris

Menurut Prof. Bambang Sulistiyono, pengendalian aliran debris dapat dilakukan dengan upaya fisik dan non fisik. Upaya fisik dilakukan salah satunya dengan teknologi sabo (Sabo Dam) ataupun check dam. Sedangkan upaya non fisik dilakukan dengan cara monitoring kejadian hujan dan gerakan material di hulu sungai, sebagai upaya peringatan dini dan mitigasi kejadian bencana aliran debris.
Seperti yang dilakukan pada sungai Sombe dan Lewara, anak sungai Palu. Pada Sungai Sombe saat ini telah dibangun 6 checkdam sedangkan pada sungai Lewara terdapat 2 checkdam.
Selain itu adanya penambangan galian C pada sungai berpengaruh terhadap reduksi sedimen sungai. Seperti yang paparkan oleh Yanty Ardhyanti Bawias dalam thesis yang berjudul Pengaruh Penambangan Galian C Di Sungai Sombe Dan Sungai Lewara Terhadap Sistem Pengendalian Aliran Debris. (Lihat thesis disini)
Dari hasil penelitian beliau, volume sedimen yang masuk tersebut dapat dikendalikan checkdam sebesar 10,22% sampai 70,70% pada kondisi normal (tanpa galian). Sedangkan, volume sedimen yang dapat dikendalikan kapasitas checkdam dan direduksi kegiatan penambangan sebesar 23,64% sampai 84,23%.


Kesimpulan

Aliran debris adalah aliran air sungai dengan konsentrasi sedimen tinggi pada sungai dengan kemiringan sangat curam. Aliran sungai ini sering kali membawa batu-batu besar dan batang-batang pohon. Aliran ini dapat mengancam kehidupan manusia dan dapat menimbulkan kerugian. Upaya yang dapat dilakukan untuk pengendalian aliran debris dapat melalui upaya fisik (Sabo Dam, Checkdam) dan nonfisik (Peringatan dini, mitigasi bencana).

Demikian artikel Palu Waspada Aliran Debris, semoga bermanfaat ya.

Comments

  1. wah mantap tulisannya, padat jelas dan kena sasaran. penulis berhasil menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan hehehe.kayanya sudah boleh dikasih habis skripsi....hahahahaha

    saya tertarik dengan pembahasan mengenai sabo dam, seperti kita ketahui struktur ini sangat membantu untuk mereduksi bahkan memfilter endapan, memanfaatkan energi potensial dan kinetik menjadi tenaga listrik, menjaga persediaan air, mengontrol aliran dll. sabo dam sendiri sudah dipakai di seluruh negara dengan potensi aliran debris tinggi, dan menurut saya sabo dam sendiri bisa di aplikasikan di palu dengan memasangnya di hulu yaitu daerah lindu dll yang notabennya adalah daerah yang diapit oleh dua dataran tinggi, ini juga merupakan solusi listrik bagi daerah palu dan sekitarnya, dan solusi aliran debris dan endapan di sungai palu, sehingga potensi yang bisakita capai sangat besar bahkan hingga memanfaatkan aliran sungai palu sebagai sumber air bersih.dengan mengatur diameter sungai yang terlalu lebar pada daerah aliran sungai, kita dapat membuat aliran lebih konstan dan dapat menghasilkan pembangkit listrik terusan sungai.

    saya pernah bertanya dan menganalisis apa saja kendala pembangunan mega proyek yang jika di bangun akan mempunyai segudang manfaat di sulawesi tengah ini meliputi:
    1. aspek sosial dan kesukuan
    2. jenis tanah
    3. terlalu banyak endapan
    (tolong beri tau saya jika ada alasan lebih )

    akhir akhir ini curah hujan dipalu meningkat, bahkan saya merasa palu sudah menyamai bandung dalam segi suhu, namun air karunia dari tuhan itu sangat sayang dan tidak dimanfaatkan melainkan langsung terbuang kelaut, semoga pemerintah lebih bijak melihat, mohon kritikan dan commentnya mengenai pendapat saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju bay, banyak manfaat pake sabo selain filter sedimen. Mengenai curah hujan, palu memang kayaknya sudah ada perubahan. Beberapa bulan lalu bahkan sampai sekarang daerah palu dan sekitarnya sering terdengar banjir + longsor.
      Tapi nanti ada pembahasan khusus mengenai sabo. Ada beberapa yg menarik dibahas, mudah-mudahan diberi semangat menulis.
      Mengenai skripsi (No comment sy bay)

      Delete

Post a Comment