Cerita Poenje, Kampung Adat Suku Bunggu

Cerita di Poenje merupakan salah satu pengalaman yang saya dapatkan ketika mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan 75 Universitas Tadulako. Dengan tema khusus mengenai pendataan Data Dasar Keluarga (DDK) dan Potensi Desa. Dengan tekad ingin penempatan kkn pada daerah yang jauh, ternyata kkn 75 di batasi hanya sampai Kabupaten Mamuju Utara (Matra), Sulawesi Barat. Apalah daya, akhirnya saya memilih Desa Polewali, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Mamuju Utara.


Salah satu dusun di desa tersebut adalah Dusun Poenje. Lalu, mengapa dusun ini menjadi spesial?

Dusun Poenje merupakan salah satu pemukiman suku bunggu (Kaili Da'a) yang di kenal nomed (Nomaden, hidup berpindah-pindah). Namun, entah apa alasannya mereka sudah hidup menetap dalam sebuah daerah dengan seorang kepala dusun sebagai perpanjangan tangan kepala desa Polewali.

Waktu itu minggu pagi, kami memutuskan untuk ikut serta dalam program sosialisasi kesehatan oleh Puskesmas Randomayang dan pemerintah desa polewali. Setelah beberapa hari minggu di lewati, kunjungan ke poenje sempat batal akibat hujan yang deras sehingga Pa' Desa (Kepala Desa) melarang kami untuk berangkat.

Rencananya disana, kami akan melaksanakan beberapa program kkn posko polewali yaitu pendataan DDK dan Potensi desa, yang dirangkaikan dengan sosialisasi kesehatan (Termasuk Pola Hidup Sehat).

Beberapa hari sebelumnya, Pa' De Sarwoto (KAUR Pemerintahan desa Polewali) dalam acara bincang santai di posko tercinta (pake kaos gantung), sempat menggambarkan bagaimana kondisi Dusun Poenje yang terkenal dengan jalannya yang warbiyahsah..

"De, jalan kesana itu rusak, kita harus nyebrang 21 sungai baru sampai" ujar Pa' De. (Mungkin alasan ini yang menyebabkan Pa' Desa melarang kami untuk berangkat)

Tapi, sepertinya ada aroma kebohongan disini. Dua puluh satu sungai? saya lebih memilih tidak percaya sebelum saya melihatnya dan menghitungnya sendiri.

Fix, minggu pagi berangkat pa' desa katakan oke, maka diputuskan personil (Tim Puskesmas Randomayang, Pemerintah Desa Polewali, dan Mahasiswa KKN 75 Untad) akan berangkat dari rumah pa'desa. Dengan peralatan dan perbekalan yang cukup, maka tim berangkat dengan motor. Rencananya kegiatan disana akan dilaksanakan 1 hari saja.

Dusun Poenje, Mamuju Utara
Rute Perjalanan ke Dusun Poenje
Klik gambar untuk memperbesar.

Tim kami berangkat melalui jalan memutar sejauh 13 Km melewati Desa Martajaya. Sampai di pemberhentian pertama (sebut saja Pos 1), jalan yang kami lewati masih berupa jalan keras dengan aspal dan sirtu. Pada pos ini pa'de mengumpulkan informasi dari penduduk setempat apakah sungai aman dilewati. Setelah dikatakan aman, ibu-ibu bidan beserta kawan-kawan memutuskan untuk menyimpan helm mereka ke rumah warga. Dan berangkatlah tim kami. Dari pos 1 ini kami langsung dihadapkan dengan penyeberangan sungai pertama.

(Dalam hati, menghitung sungai mulai dilakukan) Perjalanan ke pos 2 sudah mulai memacu adrenalin dengan jalan tanah, dihiasi licinnya jalan akibat air tetesan dari motor karena menyebrang sungai. Bak ninja hatori naik motocross, ugal-ugalan ditengah kebun, naik turun lembah bersama teman berpetualang.

Entah sampai hitungan sungai ke berapa, saya memutuskan untuk menurunkan niat saya menghitung sungai. Saya lebih memilih untuk memikirkan keselamatan saya berkendara, dengan fokus pada jalan yang licin nan terjal.

Rute perjalanan Pos 2 - Dusun Poenje
Sampailah kami di Pos 2, disini sudah terdapat beberapa keluarga suku kaili yang menetap, tapi petualangan belum berakhir. Di Pos 2 pa'de memerintahkan untuk istrahat sejenak, memperbaiki apa-apa yang melorot, minum air, istrahat (mereka sudah mulai memaki hidup, khususnya Ka Yudi).

Perjalanan dilanjutkan dari Pos 2 ke dusun Poenje. Perjalanan selanjutnya lebih panjang dengan penyeberangan sungai yang sudah malas saya pikirkan (Kayaknya Pa' De Sarwoto memang benar). Beberapa motor tim kami sempat terjebak dalam pasir sungai.

Perjalanan yang sangat melelahkan. Setelah beberapa kali penyeberangan, sampailah kami di Dusun Poenje. Dusun yang terdiri dari 30-an rumah dengan 1 sekolah minggu dan 1 aula pertemuan (lupa nama adatnya) ditengah-tengah dusun.

Dusun Poenje (Foto Udara)
Selagi Pa' Desa berbicara dengan kepala dusun setempat, kami teman-teman memutuskan untuk menyantap kelapa muda ala dusun poenje, tentunya minta izin dulu (Dengan bekal bahasa kaili, oleh Didi).

Sebelum kegiatan dimulai kami sempat melihat-lihat kondisi dusun poenje. Seperti pada umumnya rumah adat, rumah di dusun poenje merupakan rumah panggung, dengan atap rumbia dan lantai bambu ataupun papan. Anak-anak sangat senang dengan kunjungan kami, terlebih setelah saya mengeluarkan satu bungkus permen dan mengajak mereka untuk foto bersama. Ada pula beberapa monyet peliharaan warga yang sebenarnya saya lebih takut untuk melihatnya dengan dekat (Walaupun di rantai).

Kegiatan dimulai diawali dengan pendataan data dasar keluarga (Nama, Umur, Agama, Pekerjaan, Pendidikan, dll). Tidak banyak data yang kami peroleh. Ini disebabkan karena beberapa rumah tidak berpenghuni (Keluar untuk bekerja) sehingga kami menyiasati dengan cara menanyakan tetangganya yang pada saat itu ada.
Foto bersama Pa' Dusun Poenje
Baruga Tempat Berkumpul
Didi asik dengan si monyet
Kondisi Salah Satu Rumah Warga
Dusun Poenje mayoritas masyarakatnya beragama kristen. Banyak pemuda-pemuda poenje memilih untuk keluar dari pemukiman ini dan berpindah ke daerah desa yang lebih modern. Ada pula beberapa anak-anak yang keluar untuk menempuh pendidikan (SD, SMP), namun lebih sering di luar Poenje. Kebanyakan dari mereka hidup dari hasil hutan, seperti mencari kayu di hutan (pakai alat potong sensor untuk untuk dijual).
Fasilitas yang ada sangat memprihatinkan, namun cukup membantu. Terdapat satu sekolah minggu, dengan guru yang berasal dari luar poenje (Mulianya guru tersebut) jauh-jauh kesini buat ngajar anak-anak dusun poenje. Bagaimana dengan fasilitas kesehatan? ternyata mereka lebih memilih ke Pustu (Puskesmas) di desa kaloa (desa tetangga) yang lebih dekat 1 Km dengan jalan kaki namun mendaki gunung.

Dengan kondisi fasilitas kesehatan yang kurang memadai dan kondisi hidup ditengah hutan dengan pola hidup yang wah. Sudah dipastikan mereka pernah menderita penyakit salah satunya yang populer adalah Malaria.

Bagaimana tidak, beberapa minggu sebelum kedatangan kami ternyata Pa' Dusun Poenje meninggal karena menderita sakit malaria. Oleh karena itu pa' desa telah memilih pa'dusun yang baru.

Listrik PLN belum masuk. Satu-satunya listrik yang ada yaitu di rumah Pa' Dusun karena memakai sel surya. (Entah sumbangan dari siapa)

Kegiatan berlanjut dengan sosialisasi kesehatan, Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain itu dilakukan pula pengambilan sampel darah untuk mencegah penyebaran penyakit malaria. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang tergolong sadis. Pada kegiatan ini anak-anak poenje diberi permen (dibujuk) untuk ditusuk tangannya guna mengambil sampel darah mereka. Tidak jarang ada yang menangis.

Setelah kegiatan sudah rampung dilaksanakan tim kami memutuskan untuk berangkat pulang ke desa. Sebelumnya, masih ada permen dalam kantong. Senang rasanya melihat raut wajah mereka (anak-anak Poenje) gembira melihat permen yang diberi (padahal itu hanya sebuah permen) bagi mereka itu sangat berarti.

Kondisi Dusun Poenje (@juvinozil)
Biasa jo ka yudi itu cewe-cewe

Siang hari itu kami berangkat untuk pulang. Perjalanan pulang terasa lebih lama namun menyenangkan. Bagaimana tidak saat perjalanan pulang Pa' Desa mengajak kami untuk menangkap udang di sepanjang sungai yang dilewati (lumayan buat anak kkn). Sebenarnya banyak dokumentasi yang kami buat. Namun, karena bencana rusaknya harddisk jadilah semua sirna. Tersisa beberapa foto yang sempat di upload di sosial media, dan beberapa vidio yang saya dapat (ambil tanpa pamit) dari akun IG ibu indah.

(Mohon maaf ya bu)

Cari udang sungai (@juvinozil)

Dalam perjalanan pulang, tim kami memutuskan untuk berhenti di pinggiran sungai berbatu guna menyantap bekal yang sudah dibuat sebelumnya. Setelah itu perjalanan berlanjut

Pemerintah desa maupun pemerintah daerah sudah membuat beberapa program kerja untuk mereka termasuk yang kami lakukan pada saat itu. "Jalan menuju poenje nantinya akan dibuka, melewati dusun kalibamba (salah satu dusun Desa Polewali)" ujar Pa' Desa.

Tim kami keluar dari dusun Poenje pada sore hari (sebelumnya ada drama jatuh bangun yang tidak perlu dicerita), dan tentunya dengan sekantong udang sungai. Perjalanan ke dusun Poenje memang sangat sulit, namun cukup untuk diambil pelajaran bagaimana mereka (Suku Bunggu) berjuang hidup di tengah hutan dengan berbagai rintangan. Dan tentunya cukup untuk dibuat dalam satu cerita.

Demikian cerita kali ini semoga bermanfaat ya.

Comments